Tafsir Surah Tawbah Ayat 35 – 36 (Menyimpan harta)

Ayat 35: Takhwif Ukhrawi

يَومَ يُحمىٰ عَلَيها في نارِ جَهَنَّمَ فَتُكوىٰ بِها جِباهُهُم وَجُنوبُهُم وَظُهورُهُم ۖ هٰذا ما كَنَزتُم لِأَنفُسِكُم فَذوقوا ما كُنتُم تَكنِزونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

The Day when it¹ will be heated in the fire of Hell and seared therewith will be their foreheads, their flanks, and their backs, [it will be said], “This is what you hoarded for yourselves, so taste what you used to hoard.”

  • The gold and silver which was hoarded, i.e., whose zakāh was not paid.

(MALAY)

pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

 

يَومَ يُحمىٰ عَلَيها في نارِ جَهَنَّمَ

pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam,

Allah menceritakan apa yang akan terjadi pada harta yang mereka simpan itu pada hari kiamat. Emas dan perak itu akan dibakar di dalam neraka jahanam.

Ucapan ini dikatakan sebagai kecaman, penghinaan, dan ejekan buat mereka; sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat berikut:

{ثُمَّ صُبُّوا فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ عَذَابِ الْحَمِيمِ ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ}

Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang panas. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia. (Ad-Dukhan: 48-49)

Inilah pembalasan buat mereka kerana sikap mereka yang dahulu, dan inilah hasil dari apa yang mereka dulu simpan buat diri mereka. Kerana itulah dikatakan, “Barang siapa yang mencintai sesuatu hingga ia melebihkannya lebih dahulu atas taat kepada Allah, maka ia akan diazab dengannya.”

 

فَتُكوىٰ بِها جِباهُهُم وَجُنوبُهُم وَظُهورُهُم

lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka

Lafaz فَتُكوىٰ maksudnya emas dan perak itu dipanaskan sampai merah dan dilekapkan pada kulit manusia yang mengumpulkan dan menyimpan harta yang mereka dapat dari penganut agama mereka. Maknanya diselar emas perak itu di dahi mereka, rusuk mereka, belakang mereka. Ini adalah emas perak yang mereka tidak infak. Mereka dapatkan harta itu dengan cara salah kemudian mereka tidak infakkan pula.

Mengingat mereka telah menghimpun harta benda itu dan lebih mementingkannya daripada keredhaan Allah, maka mereka diseksa dengan harta benda itu. Seperti apa yang dialami oleh Abu Lahab laknatullah, dia berusaha dengan sekuat tenaga memusuhi Rasulullah Saw. Isterinya pun membantunya untuk melampiaskan permusuhannya itu. Maka kelak di hari kiamat si isteri akan membantu mengazabnya, iaitu di lehernya ada tali dari sabut untuk mengumpulkan kayu di neraka, lalu kayu itu dilemparkan kepada Abu Lahab, agar menambah pedih siksaan yang sedang dialaminya. Sebagaimana harta benda tersebut sangat disayangi oleh pemiliknya, maka kelak di hari akhirat harta benda itu berubah bentuk menjadi sesuatu yang paling membahayakan pemiliknya. Harta benda itu dipanaskan di dalam neraka Jahanam yang panasnya tak terperikan, lalu diseterikan ke wajah, lambung, dan punggung mereka.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui hadis Suhail ibnu. Abu Saleh, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“مَا مِنْ رَجُلٍ لَا يُؤَدِّي زَكَاةَ مَالِهِ إِلَّا جُعِلَ  يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ يُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبْهَتُهُ وَظَهْرُهُ، فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ، ثُمَّ يَرَى سَبِيلُهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ” وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيثِ

Tidak sekali-kali seseorang tidak menunaikan zakat harta bendanya melainkan akan dijadikan baginya kelak di hari kiamat lempengan-lempengan dari api, lalu disetrikakan ke lambung, dahi, dan punggungnya dalam suatu hari yang lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun, hingga perkara hisab di antara sesama hamba diselesaikan. Kemudian diperlihatkan jalan yang akan ditempuhnya, adakalanya ke surga, dan adakalanya ke neraka.

Sehubungan dengan tafsir ayat ini Imam Bukhari mengatakan bahawa,

telah menceritakan kepada kami Qutaibah ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Husain, dari Zaid ibnu Wahb yang mengatakan bahwa ia bersua dengan Abu Zar di Rabzah, lalu ia bertanya, “Apakah yang mendorongmu sampai datang di daerah ini?” Abu Zar menjawab bahwa pada asal mulanya ia tinggal di negeri Syam, lalu ia membacakan firman-Nya: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka gembirakanlah mereka dengan siksaan yang pedih. (At-Taubah: 34) Maka Mu’awiyah berkata, “Ayat ini bukanlah ditujukan kepada kami, tiada lain apa yang dimaksud oleh ayat ini terjadi di kalangan kaum Ahli Kitab.” Abu Zar menjawab, “Sesungguhnya hal itu terjadi di kalangan kita dan kalangan mereka (Ahli Kitab).”

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Ubaid ibnul Qasim, dari Husain, dari Zaid ibnu Wahb, dari Abu Zar r.a. Hanya dalam riwayat ini ditambahkan ‘maka ketegangan pun terjadi antara Abu Zar dan Mu’awiyah mengenai masalah ini’. Lalu Muawiyah berkirim surat kepada Khalifah Usman, mengadukan perihalku (Abu Zar). Lalu Khalifah Usman berkirim surat kepadaku, isinya memerintahkan kepadaku untuk meng­hadap kepadanya. Abu Zar melanjutkan kisahnya, “Ketika aku tiba di Madinah, maka orang-orang selalu mengerumuniku seakan-akan mereka belum pernah melihatku sebelum hari itu. Lalu aku mengadu kepada Khalifah Usman tentang hal tersebut, maka Khalifah Usman berkata, ‘Menjauhlah kamu dari Madinah, tetapi jangan terlalu jauh.” Aku (Abu Zar) berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan beranjak dari pendapatku’.”

Mazhab Abu Zar r.a. mengatakan bahawa haram menyimpan harta lebih dari apa yang diperlukan untuk nafkah orang-orang yang berada di dalam tanggungannya. Dan ia selalu memberi fatwa dengan pendapat ini dan menganjurkan serta memerintahkan orang-orang untuk meng­amalkannya, bahkan dia bersikap keras terhadap orang yang melanggarnya. Maka sikapnya itu dicegah oleh Mu’awiyah, tetapi Abu Zar tidak menurut dan terus melanjutkan fatwanya itu.

Mu’awiyah merasa khawatir bila orang-orang tertimpa mudarat dalam masalah itu. Maka ia menulis surat kepada Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan, mengadukan perkara Abu Zar dan meminta agar Abu Zar ditarik ke Madinah. Maka Usman ibnu Affan memanggilnya ke Madinah dan menempatkannya di Rabzah seorang diri. Di Rabzah itu pula Abu Zar r.a. meninggal dunia dalam masa pemerintahan Khalifah Usman.

 

هٰذا ما كَنَزتُم لِأَنفُسِكُم

“Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri,

Waktu emas dan perak itu ditekapkan pada mereka, dikatakan kepada mereka: ini dia barang yang kamu simpan untuk diri kamu.

 

فَذوقوا ما كُنتُم تَكنِزونَ

maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.

Ini adalah penyeksaan bathin, emosi. Sudahlah mereka dikenakan dengan azab itu, kemudian dikutuk, diperli dan diingatkan lagi kepada mereka, kenapa mereka dikenakan dengan azab itu.

Sila baca ayat ini dalam konteks ayat. Ayat ini diturunkan bersamaan dengan Perang Tabuk dan waktu itu sedang dikumpulkan wang untuk menjalankan perang itu. Tapi waktu itu masih ada yang tidak mahu mengeluarkan wang untuk infak kepada peperangan itu. Maka ayat ini memberikan takhwif yang amat keras.


 

Ayat 36: Ini adalah sebab keenam kenapa jihad qital kena diteruskan. Kerana ada manusia yang telah ubah agama Allah. Allah telah haramkan empat bulan untuk berperang, tapi kaum musyrkin telah langgar susunan bulan itu, sehingga bulan-bulan itu bertukar habis.

Orang Kafir Mekah tahu tentang Bulan Haram itu. Mereka tahu yang ada empat bulan yang tidak boleh berperang di dalamnya. Akan tetapi, kerana orang kafir dihasut oleh syaitan, mereka telah mengubah kedudukan Bulan Haram itu. Semasa berperang, kadang-kadang peperangan mereka itu terlanjut sampai termasuk dalam Bulan Haram. Sepatutnya mereka kenalah berhenti dari berperang. Akan tetapi, mereka alih sedikit bulan itu supaya mereka boleh juga nak terus berperang. Mereka ubah sikit-sikit, tapi lama-lama sampai tidak tahu bulan mana dah. Kalender mereka telah jadi kucar habis. Padahal Allah telah jadikan Bulan Haram itu dari awal masa lagi, semasa penciptaan bumi lagi.

Akhirnya Nabi Muhammad telah memperbetulkan balik susunan bulan itu setelah Pembukaan Mekah supaya balik kepada bulan yang asal. Ini baginda lakukan semasa baginda datang mengerjakan Haji. Oleh, itu, oleh kerana mereka mempermudahkan kejadian Allah, menukar ikut suka mereka, maka mereka kena diperangi.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهورِ عِندَ اللَّهِ اثنا عَشَرَ شَهرًا في كِتابِ اللَّهِ يَومَ خَلَقَ السَّماواتِ وَالأَرضَ مِنها أَربَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذٰلِكَ الدّينُ القَيِّمُ ۚ فَلا تَظلِموا فيهِنَّ أَنفُسَكُم ۚ وَقاتِلُوا المُشرِكينَ كافَّةً كَما يُقاتِلونَكُم كافَّةً ۚ وَاعلَموا أَنَّ اللَّهَ مَعَ المُتَّقينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Indeed, the number of months with Allāh is twelve [lunar] months in the register of Allāh [from] the day He created the heavens and the earth; of these, four are sacred. That is the correct religion [i.e., way], so do not wrong yourselves during them.¹ And fight against the disbelievers collectively as they fight against you collectively. And know that Allāh is with the righteous [who fear Him].

  • i.e., do not violate the sacred months or commit aggression therein.

(MALAY)

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهورِ عِندَ اللَّهِ اثنا عَشَرَ شَهرًا في كِتابِ اللَّهِ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan. Oleh itu, kita tahu yang kalender kita yang pakai 12 bulan dari dulu sampai sekarang ini, bukanlah rekaan manusia, tapi Allah yang tentukan.

 

يَومَ خَلَقَ السَّماواتِ وَالأَرضَ

di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,

Susunan bulan yang 12 itu disusun semasa Allah cipta bumi lagi, bukan selepasnya. Maka memang itu telah tetap. Dan Allah adakah matahari dan bulan untuk mudah manusia mengira perubahan kelender itu. Kalau kita gantung kalender di dinding rumah, seolah-olah gantung ‘kalender’ untuk kita semua di langit. Oleh itu, amat kurang ajarlah Kufur Mekah apabila mereka senang sahaja ubah apa yang Allah telah adakan.

 

مِنها أَربَعَةٌ حُرُمٌ

di antaranya empat bulan haram. 

Dari 12 bulan itu, ada empat bulan yang telah ditetapkan tidak boleh berperang. Maksudnya, tidak boleh dimulakan perang. Jadi, kalau orang kafir serang kita, bolehlah kita balas, jangan duduk diam sahaja. Dengar orang kafir ni bukan boleh kira, ada yang tidak kisah pun buat apa sahaja kerana mereka tidak ada adab dan tidak ada agama. Begitulah juga, sama macam kalau mereka serang kita di Tanah Haram, kita boleh balas pertahankan diri kita. Ini seperti yang ada dalam ayat yang lain:

{الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ}

Bulan Haram dengan bulan Haram dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qisas. Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia yang seimbang dengan serangannya terhadap kalian. (Al-Baqarah: 194), hingga akhir ayat.

Juga dalam ayat lain:

{وَلا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ}

dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu. Jika mereka memerangi kalian (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. (Al-Baqarah: 191), hingga akhir ayat.

Hadis Nabi juga ada berkenaan dengan bulan-bulan ini:

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَر، حَدَّثَنَا رَوْحٌ، حَدَّثَنَا أَشْعَثُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَإِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شهرا في كتاب الله يوم خلق السموات وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ، وَرَجَبُ مُضَرَ بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ”

Ibnu Jarir mengatakan bahawa telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Asy’as, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya semula sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan Langit dan bumi diantaranya empat  bulan haram (suci); tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Zul Qa’dah, Zul Hijjah, dan Muharram, sedangkan lainnya ialah Rajab Mudar yang terletak di antara bulan Jumada dan bulan Sya’ban.

 

ذٰلِكَ الدّينُ القَيِّمُ

Itulah (ketetapan) agama yang lurus,

Ketetapan bulan yang 12 dan empat bulan yang haram itu adalah sebahagian dari agama. Ianya tidak akan berubah sampai kiamat nanti. Jadi, kenalah hormati. Antara hikmah diadakan empat bulan itu adalah supaya ada rehat dari perang dan supaya umat boleh melakukan ibadah, antaranya ibadah Haji. Kalau sepanjang tahun berperang sahaja, bila masa nak buat benda-benda lain?

Oleh itu, bulan yang diharamkan ada empat: tiga bulan di antaranya berurutan letaknya, sedangkan yang satunya lagi terpisah; hal ini tiada lain demi menunaikan manasik Haji dan Umrah. Maka diharamkan (disucikan) satu bulan sebelum bulan Haji, iaitu bulan Zul Qa’dah, kerana mereka dalam bulan itu beristirehat tidak mahu berperang; dan diharamkan bulan Zul Hijjah kerana dalam bulan itu mereka menunaikan ibadah Haji dan sibuk dengan penunaian manasiknya. Kemudian diharamkan pula satu bulan sesudahnya —yaitu bulan Muharram— agar orang-orang yang telah menunaikan Haji pulang ke negerinya yang jauh dalam keadaan aman. Kemudian diharamkan bulan Rejab di pertengahan tahun, untuk melakukan ziarah ke Baitullah dan melakukan ibadah Umrah padanya, bagi orang yang datang kepadanya dari daerah yang jauh dari Jazirah Arab. Maka mereka dapat menunaikan ibadah umrahnya, lalu kembali ke negeri masing-masing dalam keadaan aman.

 

فَلا تَظلِموا فيهِنَّ أَنفُسَكُم

maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan itu,

Allah tegaskan supaya janganlah kamu menzalimi sesiapa pada bulan-bulan itu. Mungkin ada pendapat yang mengatakan ‘bulan-bulan’ yang dimaksudkan adalah empat bulan itu. Tapi sebenarnya lebih baik kalau kita katakan, seluruh bulan itu jangan zalimi orang lain. Kerana bukan empat bulan itu sahaja yang tak boleh zalimi orang lain, tapi dalam bulan lain, boleh pula. Adakah begitu? Tentu tidak.

Oleh itu, maksudnya, jaga semua bulan. Jangan ubah-ubah apa yang Allah telah tetapkan. Terutama kepada Musyrikin Mekah. Mereka kata mereka jaga Kaabah dan Tanah Haram, maka kenalah jaga sekali dengan bulan-bulan yang Allah telah tetapkan. Kerana apabila mereka ubah satu bulan, tentunya bulan-bulan yang lain akan berubah sekali, bukan?

Kalau kita mahu memegang pendapat yang dimaksudkan adalah bulan-bulan Haram yang empat itu, maka kita boleh terima bahawa kalau dalam bulan lain pun tidak boleh menzalim, lebih-lebih lagi dalam empat bulan itu.

Lihatlah bagaimana dalam ayat ini, lafaz yang digunakan adalah ‘jangan menzalimi diri kamu’. Kerana apa sahaja kezaliman yang mereka lakukan terhadap bulan itu, mereka sebenarnya menzalimi diri mereka, kerana mereka akan menanggung akibatnya nanti.

 

وَقاتِلُوا المُشرِكينَ كافَّةً كَما يُقاتِلونَكُم كافَّةً

dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, 

Allah suruh puak Muslim hendaklah memerangai orang yang berakidah syirik semua sekali, sepertimana mereka juga ingin memerangi puak Islam semua sekali. Memang ada orang musyrikin yang kalau boleh memang hendak membunuh habis puak tauhid. Mereka itulah yang kena diperangi.

Cuma janganlah ayat ini digunakan sebagai dalil untuk memerangi orang kafir sekarang. Kerana zaman sekarang, kita ada perjanjian damai dengan negara-negara lain. Jadi, apa yang dilakukan oleh terroris-terroris, IS, ISIS dan Daesh itu, adalah jauh dari Islam. Mereka sahaja yang mengaku mereka muslim dan melakukan perkara itu atas nama Islam, tapi mereka itu bukanlah menegakkan Islam. Mereka itu membunuh tanpa haq dan mereka kena jawap nanti di akhirat kelak atas perbuatan mereka itu.

Dan muslim sekarang pun tidak ada Khalifah untuk menjalankan perintah perang itu. Maka kena sesuaikan dengan keadaan. Tapi tidaklah ayat-ayat perang ini sudah dimansukhkan. Ianya masih tetap ada, kerana tidak semestinya keadaan akan aman sepanjang masa. Ada masanya nanti yang ayat-ayat hukum peperangan ini akan digunakan kembali. Dan kita kena bersedia.

 

وَاعلَموا أَنَّ اللَّهَ مَعَ المُتَّقينَ

dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Jangan takut untuk berperang dengan mereka kerana Allah akan bantu mereka yang bertaqwa. Iaitu mereka yang takut Allah dan jaga hukum.

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

About tafsirsunnah

Blog mentafsir Quran berdasarkan fahaman Sunnah dan salafussoleh.
This entry was posted in Surah 009: Tawbah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s