Tafsir Surah Anfal Ayat 37 – 40 (Tujuan Perang)

Ayat 37: Ini adalah hikmah peperangan, dimana akan ada kekalahan dan kemenangan.

لِيَميزَ اللَّهُ الخَبيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجعَلَ الخَبيثَ بَعضَهُ عَلىٰ بَعضٍ فَيَركُمَهُ جَميعًا فَيَجعَلَهُ في جَهَنَّمَ ۚ أُولٰئِكَ هُمُ الخاسِرونَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

[It is] so that Allāh may distinguish the wicked from the good and place the wicked some of them upon others and heap them all together and put them into Hell. It is those who are the losers.

(MALAY)

supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.

لِيَميزَ اللَّهُ الخَبيثَ مِنَ الطَّيِّبِ

supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik

Allah jadikan peperangan itu untuk bezakan kepada manusia, mana golongan yang buruk dan mana yang baik; mana yang munafik dan mana mukmin yang sebenar. Dengan adanya peperangan itu, boleh bezakan mana yang benar dan mana yang salah. Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:’

{وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِينَ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا وَقِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوِ ادْفَعُوا قَالُوا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالا لاتَّبَعْنَاكُمْ}

Dan apa yang menimpa kalian pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah dan agar Allah mengetahui dengan nyata orang-orang yang beriman, dan supaya Allah mengetahui dengan nyata orang-orang yang munafik Kepada mereka dikatakan, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri kalian).” Mereka berkata, “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian.”(Ali Imran: 166-167), hingga akhir ayat.

وَيَجعَلَ الخَبيثَ بَعضَهُ عَلىٰ بَعضٍ فَيَركُمَهُ جَميعًا

dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya,

Dan supaya Allah satukan setengah yang buruk atas setengah yang lain. Kita kena ingat yang kafir itu ada dari golongan kafir yang nyata dan ada kafir yang munafik. Yang munafik itu tidak jelas di mata manusia. Golongan munafik itu ada yang telah memberikan maklumat-maklumat rahsia tentang puak Islam kepada kawan mereka dari kalangan Yahudi. Dan puak Yahudi itu walaupun telah ada perjanjian dengan Nabi Muhammad, tapi dalam senyap mereka telah melakukan perkara yang bertujuan menjejaskan agama Islam. Mereka musuh tapi tidak nyata. Maka dengan adanya peperangan itu, dapat dinyatakan mereka semua dan dapat dikumpulkan mereka sekali. Mereka dilambakkan di atas satu sama lain.

فَيَجعَلَهُ في جَهَنَّمَ

dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. 

Selepas mereka dikumpulkan, mereka kemudiannya Allah masukkan semua sekali ke dalam neraka jahanamm.

أُولٰئِكَ هُمُ الخاسِرونَ

Mereka itulah orang-orang yang merugi.

Amat rugi sekali mereka itu. Kerana mereka akan diazab di akhirat selama-lamanya. Tidak ada harapan untuk keluar dari neraka langsung.


Ayat 38:

قُل لِلَّذينَ كَفَروا إِن يَنتَهوا يُغفَر لَهُم ما قَد سَلَفَ وَإِن يَعودوا فَقَد مَضَت سُنَّتُ الأَوَّلينَ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

Say to those who have disbelieved [that] if they cease, what has previously occurred will be forgiven for them. But if they return [to hostility] – then the precedent of the former [rebellious] peoples has already taken place.¹

  • This is a warning that punishment is always the result of rebellion against Allāh and His messengers.

(MALAY)

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya telah berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”.

قُل لِلَّذينَ كَفَروا

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu:

Orang kafir yang menentang Nabi dan umat Islam itu masih ada harapan lagi. Ini adalah nasihat kepada mereka.

 

إِن يَنتَهوا يُغفَر لَهُم ما قَد سَلَفَ

“Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; 

Sepatutnya mereka dengarlah nasihat ini: kalau mereka sanggup berhenti dari menentang Nabi dan umat Islam, Allah berjanji akan diampunkan dosa mereka yang telah lalu. Dosa mereka yang banyak itu boleh dimaafkan oleh Allah.

Bukan sahaja mereka kena berhenti dari melawan umat Islam, tapi mereka kenalah juga masuk Islam. Barulah semua dosa mereka yang dilakukan sebelum Islam itu akan dibersihkan.

Di dalam hadis sahih disebutkan pula bahawa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

” الْإِسْلَامُ يَجُبُّ مَا قَبْلَهُ وَالتَّوْبَةُ تَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهَا”.

Islam menghapuskan apa yang sebelumnya dan tobat menghapus­kan dosa yang ada sebelumnya.

وَإِن يَعودوا فَقَد مَضَت سُنَّتُ الأَوَّلينَ

dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya telah berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu”.

Akan tetapi, jika mereka ulang semula menentang agama Islam, telah berlalu cara Allah mengalahkan musuh pada masa yang lalu. Kalau dulu Allah sudah musnah golongan penentang, Allah boleh lagi untuk melakukan perkara yang sama, mudah sahaja bagi Allah.


Ayat 39: Ini adalah DAKWA Surah ini: Jihad qital (perang) itu dilakukan kerana untuk menegakkan tauhid.

وَقاتِلوهُم حَتّىٰ لا تَكونَ فِتنَةٌ وَيَكونَ الدّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انتَهَوا فَإِنَّ اللَّهَ بِما يَعمَلونَ بَصيرٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

And fight them until there is no fitnah¹ and [until] the religion [i.e., worship], all of it, is for Allāh.² And if they cease – then indeed, Allāh is Seeing of what they do.

  • Persecution. See 2:193.
  • i.e., until polytheism is no longer dominant.

(MALAY)

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

وَقاتِلوهُم حَتّىٰ لا تَكونَ فِتنَةٌ

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah

Allah arahkan kita untuk berperang dengan orang kafir sehingga tidak ada syirik lagi. Lafaz ‘fitnah’ yang dimaksudkan adalah ‘syirik’ dan bukannya fitnah yang macam kita faham itu. Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (Al-Anfal: 39) Yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini menurutnya adalah kemusyrikan.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Abul Aliyah, Mujahid,. Al-Hasan, Qatadah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Saddi, Muqatil ibnu Hayyan, dan Zaid ibnu Aslam.

Pendapat ini diperkuat dengan apa yang diriwayatkan di dalam kitab Sahihain dari Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. pernah bersabda:

“أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَإِذَا قَالُوهَا، عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ”

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mahu mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Apabila mereka mahu mengucapkannya, bererti mereka telah memelihara darah dan harta benda mereka dariku, kecuali dengan alasan yang benar, sedangkan perhitungan mereka berada pada Allah Swt.

Kerana tujuan hidup kita adalah tauhid dan kita kena sampaikan ajaran tauhid itu kepada manusia. Kalau terpaksa berperang untuk mencapai matlamat itu, maka kenalah berperang.

Berperang hendaklah kerana menghilangkan syirik, bukannya berperang sesama muslim.

Ubaidillah telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahawa Ibnu Umar pernah kedatangan dua orang lelaki di masa fitnah yang melanda di masa Ibnu Zubair. Keduanya bertanya, “Sesungguhnya orang-orang telah berbuat seperti apa yang telah engkau lihat sedangkan engkau adalah Ibnu Umar ibnu Khattab dan sahabat Rasulullah Saw., maka apakah yang menyebabkan engkau tidak keluar berperang?” Ibnu Umar menjawab, “Ia dicegah oleh Allah yang telah mengharamkan darah saudara semuslim.” Mereka mengatakan, “Bukankah Allah Swt. telah berfirman: ‘Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah, dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah.’ (Al-Anfal: 39)?” Ibnu Umar menjawab, “Kami telah berperang hingga tidak ada fitnah lagi, dan agama itu hanya semata-mata bagi Allah, Sedangkan kalian dalam perang kalian bertujuan agar timbul fitnah dan agama itu bagi selain Allah.”

وَيَكونَ الدّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ

dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. 

Dan perangi untuk sampaikan agama tauhid itu supaya ibadah dan taat hanya kepada Allah. Maknanya, arahan perang itu bukan sahaja setakat Perang Badr sahaja tapi kena diteruskan.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula dari Abu Musa Al-Asy’ari, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai seseorang yang berperang kerana dia seorang yang berani, berperang karena hamiyyah, dan berperang kerana hendak menunjuk-nunjuk, manakah di antaranya yang berada pada jalan Allah? Rasulullah Saw. menjawab melalui sabdanya:

“من قاتل لتكون لِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ”

Barang siapa yang berperang untuk membela kalimah Allah agar tinggi- maka dia berada di jalan Allah Swt.

فَإِنِ انتَهَوا فَإِنَّ اللَّهَ بِما يَعمَلونَ بَصيرٌ

Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Dan kalau orang-orang kafir itu berhenti dari melakukan kufur dan syirik, maka Allah maha melihat apa yang mereka lakukan. Allah sendiri lah yang akan menilau mereka, bukan kita.

Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahawa ketika Usamah mengangkat pedangnya kepada seorang lelaki, lalu lelaki itu mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah,” tetapi Usamah tetap memukulnya hingga membunuhnya. Selanjutnya hal itu diceritakan kepada Rasulullah Saw., maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Usamah:

“أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ؟ وَكَيْفَ تَصْنَعُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ ” قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا قَالَهَا تَعَوُّذًا. قَالَ: “هَلَّا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ؟ “، وَجَعَلَ يَقُولُ وَيُكَرِّرُ عَلَيْهِ: “مَنْ لَكَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ ” قَالَ أُسَامَةُ: حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ إِلَّا ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Apakah engkau membunuhnya sesudah dia mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah?’ Lalu bagaimanakah yang akan kamu lakukan terhadap kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ kelak di hari kiamat? Usamah Berkata “Wahai Rasullullah sesungguhnya dia mengucapkannya hanya semata-mata untuk melindungi dirinya.” Rasulullah Saw. bersabda: ”Adakah engkau belah dadanya untuk mengetahui isi hatinya?” Rasulullah Saw. mengulang-ulang sabdanya itu kepada Usamah seraya bersabda, “Siapakah yang akan membelamu terhadap kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah kelak di hari kiamat? Usamah mengatakan bahawa mendengar jawaban itu Usamah berharap seandainya dia baru masuk Islam saat hari itu (yakni kerana merasa berdosa besar).

Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

{فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ}

Jika mereka bertaubat, mendirikan solat, dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. (At-Taubah: 5), hingga akhir ayat.


Ayat 40:

وَإِن تَوَلَّوا فَاعلَموا أَنَّ اللَّهَ مَولاكُم ۚ نِعمَ المَولىٰ وَنِعمَ النَّصيرُ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

But if they turn away – then know that Allāh is your protector. Excellent is the protector, and excellent is the helper.

(MALAY)

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

وَإِن تَوَلَّوا فَاعلَموا أَنَّ اللَّهَ مَولاكُم

Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. 

Kalau mereka beriman, maka jangan perangi mereka lagi. Tapi kalau mereka tak berhenti, kena teruskan memerangi mereka dan kena yakinlah yang Allah adalah pelindung kita. Allah akan tetap menjaga kita dan Dia mampu untuk menjaga kita kerana Allah maha berkuasa.

نِعمَ المَولىٰ وَنِعمَ النَّصيرُ

Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Allah sebaik-baik pelindung dan pembantu. Seperti yang pernah kita sebutkan di tempat lain, ‘mawla’ tidak sama dengan ‘wali’. Wali adalah seseorang yang rapat dengan kita dah mahu membantu dan melindungi kita. Tapi tidak semestinya dia berkeupayaan membantu dan melindungi kita. Tapi kalau digunakan lafaz ‘mawla’, ia bermaksud seseorang yang mahu melindungi dan mampu untuk melindungi. Siapakah lagi yang mampu untuk melindungi kita kalau bukan Allah? Allah lah sebaik-baik pelindung dan yang boleh memberi bantuan.

Maulana Hadi anfal-15-40

Allahu a’lam. AKHIR JUZUK 9. Sambung ke ayat yang seterusnya


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

About tafsirsunnah

Blog mentafsir Quran berdasarkan fahaman Sunnah dan salafussoleh.
This entry was posted in Surah 008: Anfal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s