Tafsir Surah al-Maidah Ayat 94 – 95 (Larangan berburu dalam ihram)

Ayat 94: Ini pula menceritakan bagaimana perkara yang halal tapi dalam keadaan yang tertentu, ia menjadi haram. Sebagai contoh, binatang memang halal untuk diburu, tapi kalau semasa dalam ihram, jadi haram pula untuk berburu. Ini pun kena jaga juga, kerana manusia lain tidak tahu, tapi antara dia dan Allah sahaja. Mereka taat kerana Allah sahaja yang boleh ikut.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا لَيَبلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيءٍ مِنَ الصَّيدِ تَنالُهُ أَيديكُم وَرِماحُكُم لِيَعلَمَ اللَّهُ مَن يَخافُهُ بِالغَيبِ ۚ فَمَنِ اعتَدىٰ بَعدَ ذٰلِكَ فَلَهُ عَذابٌ أَليمٌ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

O you who have believed, Allāh will surely test you through something of the game that your hands and spears [can] reach, that Allāh may make evident those who fear Him unseen. And whoever transgresses after that – for him is a painful punishment.

(MALAY)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.

 

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا لَيَبلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيءٍ مِنَ الصَّيدِ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan

Allah akan pasti uji mereka yang buat Haji dengan ujian binatang berburu. Hukum waktu semasa Ihram, antara lain adalah tidak boleh berburu. Tapi ada masanya, Allah akan uji hambaNya semasa waktu itu memang memerlukan makanan.

 

تَنالُهُ أَيديكُم وَرِماحُكُم

yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu

Ujian itu bertambah berat kerana binatang buruan itu waktu itu mudah sangat untuk ditangkap, sampai boleh ditangkap dengan tangan atau boleh dilempar dengan senjata. Waktu itu, kena ingat hukum yang orang dalam ihram tidak boleh memburu.

Yang mudah didapati dengan tangan itu adalah binatang jenis kecil yang senang ditangkap; dan binatang yang boleh dilempar dengan tombak atau senjata itu adalah binatang yang besar.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan bahwa ayat ini diturunkan dalam peristiwa umrah Hudaibiyyah. Tersebutlah bahwa saat itu binatang liar, burung-burung, dan binatang buruan lainnya banyak mereka dapati dalam perjalanan mereka; hal seperti itu belum pernah mereka lihat sebelumnya. Lalu Allah melarang mereka membunuh binatang-binatang buruan, sedang mereka dalam keadaan ihram.

Begitu pun, ada jenis-jenis binatang yang boleh dibunuh walaupun dalam ihram.

قَالَ مَالِكٌ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ لَيْسَ عَلَى الْمُحْرِمِ فِي قَتْلِهِنَّ جُنَاح: الْغُرَابُ، وَالْحِدَأَةُ، وَالْعَقْرَبُ، وَالْفَأْرَةُ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ”.

Imam Malik telah meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Ada lima macam haiwan yang tiada dosa bagi orang yang sedang ihram membunuhnya, yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing gila.

Imam Syafii mengatakan, orang yang sedang ihram diperbolehkan membunuh semua hawan yang tidak boleh dimakan dagingnya. Dalam hal ini tidak ada bezanya antara yang masih kecil dan yang sudah besar. Dan Imam Syafii menilai bahawa ‘illat jami’ah yang membolehkannya diperlakukan demikian kerana dagingnya tidak boleh dimakan.

 

لِيَعلَمَ اللَّهُ مَن يَخافُهُ بِالغَيبِ

supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. 

Allah beritahu tujuan ujian itu – supaya Allah boleh zahirkan dan bezakan hamba yang benar-benar takut tanpa dia sendiri lihat Allah. Bukanlah Allah tidak tahu bagaimana hamba itu, tapi Allah nak zahirkan sahaja. Ini adalah ujian kerana orang lain tidak tahu apa yang dia buat. Tapi orang yang takut dengan Allah, tidak akan melakukannya walaupun tidak ada orang yang nampak, kerana dia yakin yang Allah nampak.

 

فَمَنِ اعتَدىٰ بَعدَ ذٰلِكَ فَلَهُ عَذابٌ أَليمٌ

Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.

Allah beritahu yang sesiapa yang melanggar selepas tahu hukum ini, baginya azab yang pedih.


 

Ayat 95: Dalam ayat sebelum ini telah diberitahu hikmah (ujian) larangan berburu. Sekarang Allah jelaskan hukum kalau berburu juga.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا لا تَقتُلُوا الصَّيدَ وَأَنتُم حُرُمٌ ۚ وَمَن قَتَلَهُ مِنكُم مُتَعَمِّدًا فَجَزاءٌ مِثلُ ما قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحكُمُ بِهِ ذَوا عَدلٍ مِنكُم هَديًا بالِغَ الكَعبَةِ أَو كَفّارَةٌ طَعامُ مَساكينَ أَو عَدلُ ذٰلِكَ صِيامًا لِيَذوقَ وَبالَ أَمرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمّا سَلَفَ ۚ وَمَن عادَ فَيَنتَقِمُ اللَّهُ مِنهُ ۗ وَاللَّهُ عَزيزٌ ذُو انتِقامٍ

(SAHEEH INTERNATIONAL)

O you who have believed, do not kill game while you are in the state of iḥrām. And whoever of you kills it intentionally – the penalty is an equivalent from sacrificial animals to what he killed, as judged by two just men among you as an offering [to Allāh] delivered to the Ka‘bah, or an expiation: the feeding of needy people or the equivalent of that in fasting, that he may taste the consequence of his matter [i.e., deed]. Allāh has pardoned what is past; but whoever returns [to violation], then Allāh will take retribution from him. And Allāh is Exalted in Might and Owner of Retribution.

(MALAY)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut keputusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

 

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا لا تَقتُلُوا الصَّيدَ وَأَنتُم حُرُمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. 

Diulang sekali lagi hukum larangan berburu semasa dalam ihram – jangan sekali-kali kamu bunuh binatang buruan dalam ihram.

 

وَمَن قَتَلَهُ مِنكُم مُتَعَمِّدًا فَجَزاءٌ مِثلُ ما قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ

Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, 

Tapi kalau buat buat juga, kena denda. Iaitu kalau mereka berburuk dengan segaja.  Dendalah adalah bayar satu jenis binatang sebanding dengan binatang yang dia bunuh.

Keputusan yang telah ditetapkan oleh para sahabat yang menyatakan denda dibayar dengan binatang yang seimbang merupakan pendapat yang lebih utama untuk diikuti. Mereka memutuskan bahwa membunuh burung unta dendanya ialah seekor unta, membunuh sapi liar dendanya ialah seekor sapi, membunuh kijang dendanya ialah domba. Peradilan yang ditetapkan oleh para sahabat berikut sandaran-sandaran-nya disebutkan di dalam kitab-kitab fiqih.

Adapun jika binatang buruan bukan termasuk binatang yang ada imbangannya dari binatang yang jinak, maka Ibnu Abbas telah memutuskan dendanya, yaitu membayar harganya, lalu dibawa ke Mekah. Demikianlah menurut riwayat Imam Baihaqi.

 

يَحكُمُ بِهِ ذَوا عَدلٍ مِنكُم

menurut keputusan dua orang yang adil di antara kamu

Tapi, penetapan samada binatang itu sama atau tidak, perlulah dihakimi oleh orang lain. Kena pilih dua orang yang adil di waktu itu.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Mansur, dari Abu Wail, telah menceritakan kepadaku Ibnu Jarir Al-Bajali, bahwa ia pernah membunuh seekor kijang, sedangkan dia dalam keadaan ihram. Lalu ia menceritakan hal itu kepada Khalifah Umar. Maka Khalifah Umar berkata, “Datangkanlah dua orang lelaki dari kalangan saudara-saudaramu, lalu hendaklah keduanya memutuskan perkaramu itu.”
Maka aku (Ibnu Jarir Al-Bajali) datang kepada Abdur Rahman dan Sa’d, lalu keduanya memberikan keputusan terhadap diriku agar membayar denda berupa seekor domba jantan berbulu kelabu.

 

هَديًا بالِغَ الكَعبَةِ

sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah

Sebagai hadiah yang akan disembelih di Kaabah. Dagingnya dibahagikan kepada fakir miskin yang ada di situ.

 

أَو كَفّارَةٌ طَعامُ مَساكينَ

atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin

Dan kalau tidak ada binatang yang sebanding, kena bayar kafarah – bagi makan orang miskin. Ada yang mengatakan, bilangan orang yang perlu diberi makan adalah kira agak-agak berapa orang boleh makan dengan binatang yang telah dibunuh itu.

Imam Syafii mengatakan, harga ternak yang semisal ditaksir seandainya ada, kemudian harganya dibelikan makanan, lalu makanan itu disedekahkan. Setiap orang miskin mendapat satu mud menurut Imam Syafii, Imam Malik, dan ulama fiqih Hijaz. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

 

أَو عَدلُ ذٰلِكَ صِيامًا

atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, 

Jika orang yang bersangkutan tidak menemukan makanan —atau kita katakan menurut pendapat yang mengatakan boleh memilih samada beri makanan atau berpuasa — maka orang yang bersangkutan melakukan puasa sebagai ganti memberi makanan setiap orang miskin, iaitu setiap orang diganti menjadi puasa sehari. Kalau makanan yang sepatutnya disedekahkan itu boleh diberi makan kepada sepuluh orang, maka dia kena puasa selama sepuluh hari.

 

لِيَذوقَ وَبالَ أَمرِهِ

supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. 

Dikenakan dengan hukuman yang agak berat ini supaya dia dapat rasa hukuman Allah atas kesilapan dia.

 

عَفَا اللَّهُ عَمّا سَلَفَ

Allah telah memaafkan apa yang telah lalu.

Kalau dulu dia pernah buat kesalahan itu semasa tidak tahu hukum, ianya telah dimaafkan.

 

وَمَن عادَ فَيَنتَقِمُ اللَّهُ مِنهُ

Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. 

Tai kalau sudah tahu tapi ulang semula, Allah akan hukum. Ianya tidak sama kalau kita buat kesalahan yang kedua setelah kita tahu. Kalau tidak tahu, boleh dimaafkan lagi. Tapi kalau buat lagi setelah tahu, ianya berat lagi.

 

وَاللَّهُ عَزيزٌ ذُو انتِقامٍ

Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

Allah boleh hukum kerana Allah maha perkara. Dan Allah memang akan hukum, kerana lafaz al-aziz ada bersama dengan lafaz dzun-tiqam.

Allahu a’lam. Sambung ke ayat yang seterusnya


Rujukan: 

Maulana Hadi

Nouman Ali Khan

Tafsir Ibn Kathir

About tafsirsunnah

Blog mentafsir Quran berdasarkan fahaman Sunnah dan salafussoleh.
This entry was posted in Surah 005: al-Maidah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s